Pencarian Informasi



Link

  • USSI-PGS
  • USSI








  • HomeBeritaLPD DIGITAL

    LPD DIGITAL

    Diposting : 30 March 2016

    Digital Disruption

    Beberapa hari terakhir, kita menyaksikan hiruk pikuk pemberitaan terkait demo sopir taxi, memprotes keberadaan layanan taxi online (Uber, Grab Taxi). Beberapa waktu sebelumnya, media juga ramai memberitakan keributan antara para pengendara ojeg pangkalan dengan pengendara ojeg online (Gojek, Grabbike). Sesuatu sedang terjadi. Kita sedang menyaksikan, bagaimana teknologi digital: teknologi informasi (IT – Information Technology), telah mengubah ‘peta persaingan bisnis’ transportasi. Industri layanan jasa transportasi, terguncang oleh munculnya pemain baru yang secara totalitas memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan bisnisnya.

    Arti kata ‘disruption’ sebenarnya adalah ‘pengganggu’, ‘pengacau’. Digital Disruption saat ini mengandung arti, adalah sesuatu yang ‘mengacau’, ‘mengganggu’ stabilitas bisnis dari para pemain ‘tradisional’ dan ‘konvensional’ akibat munculnya para pemain ‘baru’ yang progresif dan agresif menerapkan teknologi digital dalam menjalankan bisnisnya.

    Digital disruption terjadi di sekeliling kita dalam skala yang semakin besar dan percepatan yang semakin tinggi. Satu per satu, koran dan majalah cetak tutup, baik nasional maupun internasinal. Bisnis pengantaran surat secara tiba-tiba menyusut nyaris hilang sama sekali. Telepon rumah, tiba-tiba hanya menjadi pajangan. Telepon-telepon umum, menjadi onggokan besi tua. Toko-toko online menjamur dengan pertumbuhan omzet mencapai ratusan persen sementara pada saat yang sama, toko-toko retail mengalami penurunan omzet.

    Perubahan Perilaku

    Saat ini, kita juga sedang menyaksikan perubahan perilaku akibat hadirnya teknologi digital. Sebuah survei dilakukan untuk melihat perubahan perilaku akibat adanya smartphone. Sebanyak 95% responden menyatakan bahwa mereka beraktifitas menggunakan smartphone saat menjelang tidur. Lalu, saat bangun tidur, 50% responden menyatakan bahwal hal pertama yang mereka lakukan adalah memeriksa smartphone.

    Teknologi digital mengubah cara orang mengakses berita dan mencari informasi. Berapa banyak dari kita yang masih mengandalkan koran sebagai sumber berita? Berapa kali sehari kita mengakses situs berita online? Saat membutuhkan referensi, iklan… hal apa yang kita lakukan pertama kali? browsing internet, bertanya via group whatsapp, … semuanya menggunakan perangkat digital.

    Teknologi digital mengubah cara orang berkomunikasi. Berapa kali sehari kita memeriksa smartphone kita untuk mengakses whatsapp, telegram, email, sms? Pada saat kita merasa perlu untuk memberitakan sesuatu ke orang lain, hal pertama yang kita pikirkan dan langsung dilakukan adalah dengan menggunakan smartphone.

    Teknologi digital mengubah cara kita bersosialisasi. Kita merasa lebih dekat dengan anggota group chat / messaging kita, daripada dengan tetangga bahkan anggota keluarga kita. Komunikasi dengan sesama anggota group di aplikasi messaging dapat terjadi kapanpun, bahkan tengah malam atau dinihari.

    Terkait layanan keuangan, teknologi digital telah mengubah cara orang berinteraksi dan bertransaksi dengan perbankan. Sebuah survei menunjukkan, hampir 60% pelanggan bank berinteraksi dengan perangkat handphone nya. Mereka bisa transaksi 20-30 kali per bulan. Pemakai ATM, hanya sekitar 8% dari seluruh nasabah dan bertransaksi hanya 3-5 kali per bulan. Terkait dengan ini, di belahan bumi yang lain, di Kenya, sebuah negara di benua hitam afrika, sebuah layanan keuangan digital berbasis perangkat handphone, yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan non-bank, dalam waktu hanya 3 tahun, telah memikat 54% dari total penduduk dewasanya untuk beralih dari layanan perbankan ke layanan keuangan digital baru ini.

    Masa depan itu adalah sekarang (The Future is Now!)

    Apa yang kita perkirakan sebagai sesuatu yang akan terjadi ‘nanti’, pada kenyataannya sedang terjadi sekarang. Kejadian itu sedang terjadi sekarang, di depan kita, di sekeliling kita, di rumah kita. Anak-anak kita setiap hari berinteraksi dengan handphone. Bertransaksi membeli voucher game online, isi pula, membeli aplikasi. Anak-anak kita, besok lusa adalah nasabah LPD kita, adalah para pelanggan kita…

    Mereka yang tidak siap mengantisipasi perubahan ini, sudah berjatuhan, sekarang. Korban pertama-tama adalah dari dunia penerbitan. Newsweek, Washington Pos, tutup. Padahal mereka sudah berusia ratusan tahun. Layanan jasa pos. Layanan telepon rumah. Bisnis wartel berguguran hanya dalam hitungan bulan. Bisnis agen hotel, travel. Hari ini, kita menyaksikan, korban-korban semakin merembet ke mana-mana, ke berbagai bidang kehidupan: jual beli barang retail, grosir, transportasi (uber, gojek, grabbike, grabtaxi), layanan keuangan. Hari ini kita menyaksikan, munculnya layanan-layanan keuangan di internet (financial technology company), yang hampir semuanya bukan dilakukan oleh lembaga keuangan ‘tradisional’ perbankan.

    Perbankan sedang galau, menghadapi berbagai ‘serangan’ dari berbagai penjuru, dengan kecepatan yang tidak terprediksi sebelumnya. Perusahaan telekomunikasi (telkomsel, xl, indosat, telkom, smartfren), terus mendesak maju, membuat produk-produk layanan keuangan. Perusahaan-perusahaan berbasis teknologi informasi (FINTECH – Financial Technology) berlomba-lomba membangun layanan jasa keuangan: Apple Pay, Pay Pal, Samsung Pay, CekAja, UangTeman, Pinjam, CekPremi, Bareksa, Kejora, Doku, Veritrans, Kartuku dan seabreg produk layanan keuangan lainnya, baik nasional maupun internasional. Lobby-lobby terus dilakukan, agar regulasi menyesuaikan dengan perubahan ini, sehingga perbankan tidak lagi mempunyai ‘hak istimewa’, memonopoli produk dan layanan di industri ini. Semua ‘serangan’ yang ‘mengganggu’ ini bersenjatakan hal yang sama: ‘Teknologi Digital’.

    Digitalisasi LPD: ‘To Be or Not To Be’

    ‘To be or not to be’, kutipan dari drama Shakespeare, yang menyiratkan kondisi seseorang yang sedang dihadapkan hanya pada dua pilihan: hidup atau binasa. Dalam kaitan lembaga bisnis, termasuk LPD, menghadapi dan menyikapi perubahan yang sangat cepat ini, hanya ada dua pilihan: lanjut atau tergilas. Analoginya: sekeras apapun Bluebird, Express Taxi melakukan demo dan perlawanan, tetap saja, taxi online akan memenangkan persaingan, dan Bluebird, Express dan lainnya akan tergilas jika tidak berubah. Digitalisasi bukan untuk dilawan, tapi untuk dijalani. Berdamai dengan dunia digital.

    Ada satu ungkapan di lingkungan pebisnis yang berbunyi: “hanya ada satu bos di dunia ini, yakni PELANGGAN anda. NASABAH anda”. Sang Pelanggan anda ini, sang Nasabah anda ini, bisa memecat semua orang di perusahaan kita, di LPD kita, hanya dengan satu hal, yakni dengan cara memindahkan semua dana dan melakukan transaksinya ke tempat lain. Permasalahannya: Pelanggan Anda, Nasabah LPD kita saat ini, dan calon Nasabah-Nasabah LPD saat ini, lebih memilih untuk bertransaksi dan berhubungan dengan lembaga keuangan melalui Teknologi Digital. Dengan demikian, Digitalisasi LPD, bukan merupakan pilihan, tapi satu-satunya hal yang bisa dilakukan, agar bisa melewati badai Digital Disruption ini.

    Berita baiknya, dengan ada nya digital disruption ini juga membuktikan bahwa hegemoni para penguasa dunia bisnis, yang tampak seolah-olah tidak mungkin dikalahkan, tidak mungkin disingkirkan, ternyata terbukti bisa di luluh lantakkan, dengan senjata ‘teknologi digital’ ini. Kekuatan kapital, bukan lagi penentu kemenangan. LPD punya kesempatan dan peluang yang sangat besar untuk menjadi pelaku utama industri keuangan di Bali, dengan kekuatan digital. Saat para ‘raksasa’ sedang tersibukkan menghadapi gempuran dari sana sini; saat para ‘raksasa’ melangkah tertati-tatih karena dibatasi berbagai regulasi dan birokrasi; maka LPD dapat lebih lincah mengimplementasikan berbagai layanan digital kepada nasabahnya. Kesempatan ini hanya muncul sekali, saat ini, saat hiruk pikuk dan badai Digital Disruption menerpa. Mari bergerak.

    by : MTR


    Leave a Reply